Penangkapan dan represi masih berlangsung di Polongbangkeng, Takalar. Kami menerima kabar satu orang lagi ditangkapi polisi. Dg Salli dari Kampung Beru ditangkap pada Rabu, 28 Oktober 2009.
Dg. Salli ditangkap dengan tuduhan merusak lahan PTPN XIV. Ini adalah aksi langsung yang dikembangkan warga diluar dari model-model kompromi dan dialog yang terbukti tidak pernah memenangkan warga. Dengan demikian total warga yang ditangkap polisi mencapai 8 orang.
Dini hari jam 4 subuh, 28 Oktober, dua warga Polongbangekeng, ditangkap aparat polsek Takalar. Mereka adalah Dg Sanri dan Dg Ngangi dari Desa Towata. Pengejaran dilakukan dini hari dengan alasan yang tidak jelas. Mereka dikejar sehingga terpaksa bersembunyi di areal persawahan. Warga mengabarkan polisi terus mencari warga lainnya untuk dijadikan tersangka.
Terkait kebrutalan polisi terhadap petani di Takalar pada 25 Oktober kemarin, dua demonstrasi digelar di Makassar. Aksi pertama diusung oleh belasan aktivis Malcom, dengan membawa spanduk raksasa berisi statement dukungan kepada petani Polongbangkeng, dan kecaman pada aparat polisi. Aksi yang diadakan di depan kampus STMIK Dipanegara pada 26 Oktober 2009 tersebut berjalan lancar, disertai dengan pembagian selebaran dan orasi dari para demonstran. Sementara aksi kedua digelar oleh 50-an mahasiswa Unhas, di depan Kantor Kepolisian Daerah Sulselbar.
Polisi kembali menembaki warga Polongbangkeng, Kabupaten Takalar. Ini adalah ketiga kalinya sejak kasus perampasan tanah oleh PTPN XIV ini muncul ke permukaan akhir 2008 lalu.
Hari Minggu, 25 Oktober 2009, warga mendengar kabar adanya aktifitas pengolahan lahan yang dilakukan oleh pihak PTPN XIV. Sekitar jam 4 sore, 10 (sepuluh) orang warga mendatangi lokasi di Blok K Desa Barugayya, Kecamatan Polongbangkeng Utara, Takalar. Namun belum sampai di lokasi, aparat yang mengawal pihak PTPN, menghadang warga. Mereka mengusir dan memerintahkan untuk kembali ke rumah masing-masing jika ingin aman. Tidak menerima hal tersebut, terjadilah adu mulut tentang latar belakang pengolahan dan kasus ini sebelumnya. Kemudian ada 4 (empat) orang dari satuan Brimob dan satu orang intelijen Kodim, yang terus mendesak warga untuk pergi dari lokasi.
Karena terdesak dan waktu telah menunjukkan pukul 6 petang, warga terpaksa meninggalkan tempat tersebut. Kepulangan warga ternyata disusul oleh 1 (satu) mobil Brimob. Dalam perjalanan pulang, saat warga masih berjarak sekitar 1 km dari lokasi pengolahan, mobil aparat mendekati rombongan warga dan bergerak melambat. Saat itulah aparat yang ada di atas mobil langsung melompat turun dan menembak secara membabi buta ke arah warga.
Peluru Tajam
Terjadi kepanikan luar biasa, karena warga tidak menyangka akan mendapat tembakan dari polisi. Menurut pengakuan warga, polisi menggunakan peluru tajam saat kejadian tersebut. Ini membuat warga terpencar untuk menyelamatkan diri dari kejaran polisi. Namun, Basse Dg Gassing (50 tahun) dan Bandu Dg Gissing (70 tahun) yang telah berusia lanjut akhirnya tidak bisa menghindari pengejaran di bawah rentetan tembakan. Dg Gassing dan Dg Gissing pun ditangkapi dan langsung dibawa ke kantor polisi.
Tidak cukup satu jam berselang, polisi kemudian bergerak masuk ke arah perkampungan warga di Kampung Ko’mara dengan menembak secara acak. Dari arah belakang rumah warga, polisi terus melakukan intimidasi dengan menembakkan gas airmata. Hal tersebut terus berlangsung hingga jam sepuluh malam.
Sejarah Panjang Tiga Dekade
Penghadangan warga atas aktifitas PTPN XIV yang kemudian direspon aparat dengan penembakan membabi buta, adalah kelanjutan dari perjuangan warga selama hampir tiga dekade. Sejak tahun 1980, tanah mereka diambil negara untuk dijadikan perkebunan tebu. Prosesnya berlangsung penuh tekanan, manipulasi dan represi aparat negara. Tahun 1999, seiring melemahnya rezim otoritarian Orde Baru, tanpa dikomando dan keterlibatan pihak luar, petani kembali bangkit dan berjuang mengembalikan tanah mereka yang dirampas. Mereka melakukan pendudukan dan aksi langsung (reclaiming), sebagai protes dan manifestasi perjuangan.
Meski belakangan diperlemah dengan upaya-upaya diplomasi serta represi negara, warga terus bertahan. Salah satunya dengan melakukan penghadangan serta sabotase atas aktifitas PTPN XIV yang mengancam kehidupan warga. Ini adalah bentuk swa-aktifitas warga Polongbangkeng Takalar yang berkembang secara mandiri.
Setelah kampanye mendukung petani takalar di Kampus Unhas pada 5 Oktober lalu, Tim Kerja SOLFest akan melanjutkan kampanye publik serupa di Kampus STIMK. Ini telah diagendakan sebelumnya oleh Tim Kerja untuk terus menggalang solidaritas dan membangun opini yang berpihak pada petani dan warga Polongbangkeng, Takalar.
Tanggal 9 November 2009 dipilih sebagai hari yang tepat. Bertempat di halaman parkir Kampus STIMK Dipangera, SOLFest terbuka bagi setiap individu untuk berpartisipasi mengorganisir event kampanye ini.
Solidarity Festival adalah sebuah kampanye terbuka yang diinisiasi dan digerakkan secara independen oleh kolektif-kolektif dan individu-individu yang peduli pada permasalahan sosial.
SOLFest adalah kampanye independen, tidak bekerja dengan atau untuk pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya. Kami bergerak secara horizontal dan tidak tersentral. Melalui SOLFest, kami mendorong perubahan sosial dengan mengkampanyekan isu-isu sosial, menggalang solidaritas dan tindakan aktif dari masyarakat luas.
Selama ini setiap ada kejadian dan permasalahan yang terjadi di sebuah tempat, perhatian dan informasi serta hal lainnya hanya terlokalisir pada sekelompok orang secara eksklusif (aktifis, pemerhati, akademisi). Di lapis sosial lainnya, peristiwa-peristiwa tersebut tidak menjadi perhatian kecuali sebagai bahan konsumsi informasi saja. Hal ini membangun separasi (keterpisahan) di masyarakat umum yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari kapitalisme dan negara.
SOLFest adalah media untuk memecah keterpisahan tersebut, membuka ruang solidaritas untuk sama-sama mendudukkan diri sebagai bagian yang sama dari kejahatan kapitalisme dan dominasi negara.
RASA PAHIT DI LADANG TEBU
SOLFest kali ini mengambil tema Rasa Pahit di Ladang Tebu, sebagai upaya mendukung perjuangan petani Takalar yang mempertahankan hak hidupnya dari perampasan tanah yang dilakukan PTPN XIV. Melalui SOLFest, kami ingin menyebarluaskan apa yang dialami oleh petani Takalar ke seluruh masyarakat luas. Hal ini disertai dengan harapan akan terbangun solidaritas dan tindakan aktif dari masyarakat, yang akan berdampak pada perbaikan kehidupan petani Takalar.
APA DAN BAGAIMANA?
Kampanye ini mengundang secara luas dan terbuka kepada seluruh masyarakat untuk datang, terlibat dan mendukung aksi Petani Takalar. Dalam kampanye ini, dirangkum beberapa item kegiatan dan bentuk kampanye berupa :
a.Penyebaran ribuan leaflet, brosur, pin dan materi kampanye lain mengenai perjuangan Petani Takalar
b.Testimoni warga Polongbangkeng, Takalar yang sementara berjuang
c.Display informasi mengenai kejadian di Takalar
d.Pameran Foto yang menceritakan kehidupan harian dan perjuangan petani takalar
e.Live music dari independent band (Trilogi, The Hendriks, 50% Free, The Hotdogs)
f.Happening art, musikalisasi puisi dan teatrikal
g.Pemutaran film pendek dokumentasi perjuangan petani Takalar
h.Tabling ‘Food Not Bombs’ dan stand media independen/alternatif
i.Penggalangan dana untuk project independent mendukung “perjuangan lokal melawan neoliberal”
KAPAN DAN DIMANA?
Kampanye ini diselenggarakan pada 5 Oktober 2009, di Pelataran Baruga AP. Pettarani Kampus Unhas Tamalanrea. Dimulai sejak jam 9 pagi hingga selesai.
PENYELENGGARA
SOLFest dikerjakan secara independen oleh Tim Kerja SOLFest yang terdiri dari berbagai kelompok dan individu yang bekerjasama secara horizontal, non-hirarkis.
Seluruh pembiayaan kampanye ini berasal dari penggalangan dana perorangan secara mandiri, independen dan simpatik. Tidak ada sponsor, funding dan pihak-pihak ketiga dalam kampanye ini. Oleh karenanya juga dibutuhkan dukungan dana yang bisa disalurkan melalui no. rekening SOLFest 2009 :
BANK MANDIRI CAB. UNHAS MAKASSAR
NO REK : 152 0010347678
An. : YASMINE C. INDRIANA
kontak person : 081355991082 | email : jaringanlibertarian@yahoo.com | www.jaringanlibertarian.tk