[SOLFest] Reportase SOLFest #2

Setelah persiapan selama sebulan dari SOLFest #1 di Kampus Unhas, 5 Oktober lalu, akhirnya SOLFEST #2 dapat terlaksana kembali. Masih dengan konsep yang sama bertajuk “Kampanye Mendukung Perjuangan Petani Takalar”. Persiapan tersebut mencakup evaluasi dan pematangan jaringan kerja, penggalangan dana, sosialisasi, pengisi acara, material kampanye , sampai persiapan teknis acara. Tetap berpegang teguh pada spirit awalnya, kegiatan ini murni terselengara atas partisipasi dan swadaya bersama serta dukungan donasi berbagai pihak tanpa label sponsor korporasi maupun lembaga donor. Sebagai kampanye independen, SOLFest juga tentu berupaya keluar dari tendensi-tendensi politis pihak tertentu atas perjuangan petani.

Berangkat dari catatan evaluasi atas kampanye Solfest sebelumnya, kali ini berjalan lebih maksimal. Pertemuan/rapat intens dua sampai tiga kali seminggu terus memberi ruang aktif bagi individu yang berpartisipasi. Dua hari menjelang kegiatan intensitas kerja makin padat dan cukup menguras energi tim kerja, tapi spirit dan semangat teman-teman tetap nampak dalam menjalankan visi kampanye ini.

Bertempat di Kampus STMIK Dipanegara, 9 November 2009, tepat 3 bulan insiden penembakan petani Takalar 9 Agustus lalu. Halaman kampus yang cukup luas, dirubah menjadi areal kampanye. Sebuah panggung mini, dihiasi tanaman tebu mengelilinginya . lengkap dengan peralatan musik sebagai pemeriah acara. Di sudut lain, terpasang tenda stand pameran menampilkan sekumpulan data & informasi, foto-foto seputar kejadian di Takalar, dan mengangkat sisi lain yang tak terekspos secara meluas. Fakta dan informasi yang takkan pernah didapat dari media massa.

Sebagai even kampanye, material kampanye menjadi hal yang penting. Sekitar 600 lembar flyer, 300 buah pin, 200 lembar stiker, dan material lainnya disiapkan dalam 1 paket kantong cantik dan dibagikan secara gratis. Gratis? Ya, dalam kampanye ini, banyak yang bertanya-tanya, apa betul gratis? Kultur jual beli mematikan imajinasi kita tentang sebuah kondisi dimana transaksi atas uang eksis.

Di sebuah meja diletakkan lembar petisi, bagi setiap orang yang ingin mengapresiasikan dukungan dengan mencantumkan nama dan tanda tangannya . Terdapat juga kotak donasi sebagai bentuk support bagi kelanjutan kerja kampanye Solfest. Dari sinilah kekuatan kampanye SOLFest, berangkat dari solidaritas umum, dan tidak bergantung dari pendanaan dari pemerintah, maupun lembaga donor.

Untuk materil pendukung lain dipasang spanduk putih sepanjang tiga meter, media coret-coret pesan, apresiasi dukungan serta uneg –uneg atas perjuangan petani. Sementara di dekat tangga, ada stand baca dari Biblioholic dan dapur Solfest yang menyajikan menu sederhana bagi kegiatan ini.

Selain materil pendukung kampanye, lebih dahulu disepakati pembagian/distribusi peran yang terlibat dalam tim kerja. Pembawa acara, humas, teknisi panggung, dokumentasi, penanggung jawab testimony, tim Direct Dialog dan pengumpul petisi.

Jam satu siang, molor dua jam dari jadwal yang direncanakan, kampanye ini dibuka. Duet amut MC acara yaitu Kiky dan Achi memulai peran vitalnya. Mereka memulai acara dengan memperkenalkan Solfest, mempertegas posisi dan visi kegiatan ini sebagai ajang kampanye dalam rangka membangun apa yang kami sebuah sebagai gerakan sosial.

Meski molor beberapa saat, penampil perdana, duo pemain gendang dari Sastra Unhas membuka kampanye ini dengan permainan yang menghentak. Tepat menarik perhatian pengunjung ataupun orang yang melintas saat itu. Tampak orang-orang mulai berkumpul dan memusatkan perhatiannya.

Aci dan Kiky pun menggeber penampil berikutnya untuk masuk pada atmosfer kasus di Takalar. Dan seorang Tyan dengan “Bunga dan Tembok” dan “Puisi Menolak Patuh“ Wiji Tukul pun mengajak pengunjung untuk terlibat secara emosional ke inti kampanye. Pembacaan puisi yang luar biasa oleh iringan backsound yang menghanyutkan. Pandangan terpusat ke arahnya, terkesima, merinding serta menyentuh emosi dan rasa haru. Seorang ibu dari Takalar, yang datang bersama rombongan beberapa saat sebelum acara dimulai, melinangkan airmata tersentuh oleh setiap alunannya. Applaus meriah mengakhiri puisi agitatif nan indah itu.

Paper Clip menjadi band penampil berikutnya. Ada dua nomor dari Incubus yang menggugah suasana sebagai momen kampanye bagi kalangan anak muda yang identik dengan hedonism dan kemasabodoan.

Selang beberapa waktu, performance panggung jeda. Duet MC kembali mengangkat Solfest sebuah kampanye untuk mengenyampingkannya sebagai sebuah even semata. Tak henti-hentinya spirit SOLFest diserukan, untuk mengajak dan membuka ruang partisipasi.

Aktivitas kampanye terus berjalan. Stand data terus dipenuhi pengunjung. Yang menarik, kampanye ini tidak membutuhkan seorang guide untuk menerangkan informasi apa saja yang tertera. Pengunjung yang singgah di tenda informasi justru menemukan bapak dan ibu, warga Takalar yang datang langsung ke kampanye ini untuk menyampaikan testimoninya mengenai apa yang terjadi. Mereka dengan sigap menyampaikan jawaban-jawaban bagi setiap pengunjung yang bertanya. Menceritakan perihal yang berkait kejadian di Takalar.

Di sebelah panggung, beberapa meter sebelah kiri, beberapa orang beraksi di arena Shout on Target. Ada gambar polisi dan pejabat terpampang, di atasnya tulisan “Kenali Musuhmu”. Games ini sebenarnya untuk memeriahkan kampanye.Siapapun bebas melemparkan peluru ke arah gambar di papan.

Paket materil kampanye dalam sebuah kantong cantik juga dibagikan sambil membuka apresiasi solidaritas dengan mengumpulkan tanda tangan pada petisi. Terkhusus bagi tim direct dialog , sangat aktif berkeliling mengumpulkan tanda tangan. Spanduk apresiasi juga terus dipenuhi coretan tangan berisi beragam komentar. Walaupun dalam cuaca yang sangat panas dan terik, aktivitas kampanye berjalan maksimal dimana masing-masing menjalankan perannya.

Tepat jam 3 sore, puncak kampanye sampai pada sesi testimony/kesaksian warga Takalar. Delapan orang yang hadir saat itu bertutur tentang perjuangan panjang mereka dan memberikan informasi langsung berkait hal-hal yang tak pernah terpublikasi ,dimana hak-hak mereka terampas dan kehidupan mereka terkecekam oleh konflik panjang petani melawan korporasi negara PTPN XIV. Seorang ibu bercerita pengalamannya di penjara atas tuduhan kriminal, pengrusakan lahan yang terjadi pada insiden penembakan Pakkawa tahun 2008 lalu. Perjuangan petani yang belum berakhir hari ini, tiada harapan bagi dukungan yang meluas, pernyataan yang menutup testimoni selama kurang lebih dua jam. Berakhir testimoni, warga takalar meninggalkan tempat dan kembali ke tanah perjuangan mereka.

Setelah sesi utama berupa testimoni warga, dan sebagai pemanis kampanye ini, panggung SOLfest kemudian diisi oleh band-band pendukung hingga tuntasnya acara tepat pukul enam. Sepertinya bagian inilah yang punya daya magnet yang menggerakmajukan beberapa pengunjung. Dari seluruh rangkaian kegiatan, inilah yang menjadi tantangan berat bagi Tim Solfest untuk mengangkatnya tetap bermakna sebagai medium gerakan. Dibalut dalam bentuk panggung terkadang sulit memposisikan sebagai sebuah kampanye atau sebuah event semata layaknya konser musik ala perusahaan rokok.

Sejak awal, konsep SOLFest adalah kampanye dengan medium yang paling mudah diterima oleh audiensnya, yakni kalangan anak muda yang terlanjut dicapai sebagai kelompok potensial, sekaligus apatis. Jelas, konsep tersebut rawan untuk terpenjara sebagai hanya konser musik yang dinikmati oleh orang-orang yang sebenarnya tidak mempedulikan apa yang dikampanyekan, tetapi lebih tertarik pada acara apa yang disajikan.

Langkah pertama cukup berhasil: mendatangkan orang. Langkah kedua-lah yang sulit, bagaimana orang-orang yang datang dapat memahami informasi dan substansi kampanye yang sejak awal ingin disampaikan.

Berangkat dari hal tersebut, Tim SOLfest terus belajar dan mengevaluasi diri atas kekurangan. Ini hanya bisa dilakukan dengan mengapresiasi segala kritik dan pandangan yang hadir. Terutama pada rawannya kampanye ini berhenti sebagai sekedar event, sebuah poin yang sejak awal dipikirkan oleh Tim Kerja.

Selain itu untuk mempertahankan bagaimana SOLFest dapat bertransformasi sebagai medium pengorganisiran audiensnya, untuk terlibat dalam aktivisme progresif. Inilah PR besar bagi Tim Kerja SOLFest serta Jaringan Libertarian untuk belajar mengorganisir diri, membangun solidaritas dan mendukung segala perjuangan melawan kapitalisme melalui jejaring non-hirarkis, independen, serta berbasis pada swadaya partisipannya. Meskipun tidak didukung oleh pendanaan raksasa dan jaringan elit, pada akhirnya SOLFest telah membuktikan hal tersebut mungkin.

Tetap semangat teman-teman, salam kenal buat teman baru. Sampai jumpa di project selanjutnya … !

Info tambahan :

1. Petisi terkumopul hingga akhir acara sebanyak 280 orang ditambah dukunngan luar sebanya

2. Donasi yang terkumpul diakhir acara sebesar Rp. 191.000 (laporan keuangan SOLFESt akan dilampirkan pula)

Beberapa Pertanyaan Yang Sering Diajukan Tentang SOLFest dan Kasus Takalar

Apa sih Solfest itu?

Solfest adalah kampanye publik untuk menggalang dukungan dan solidaritas terhadap petani Takalar yang dirampas tanahnya. Seperti yang kita tahu bersama, tanah adalah kehidupan bagi petani. Tanpa tanah, tidak ada kehidupan bagi petani. Merampas tanah petani sama halnya dengan membunuh petani.

Siapa yang merampas tanah petani?

Tanah petani Takalar dirampas oleh PTPN XIV, sebuah perusahaan agribisnis milik negara.

Tapi, apa yang sesungguhnya terjadi?

Tahun 1980, sebuah proyek perkebunan tebu dimulai. Proyek tersebut butuh lahan yang ditempati warga sejak tahun 1960. Masyarakat menolak karena mereka hanya lahan tersebut mereka bergantung hidup. Kamu tahu kan, Maka pembebasan lahan dilakukan secara paksa dan sepihak dengan janji akan dikembalikan setelah 25 tahun.

Sebentar…. dimana sih Polongbangkeng itu? Baru dengar soalnya … J

Polongbangkeng itu di Kabupaten Takalar, sekitar 50 km dari Makassar. Disitulah terletak Pabrik Gula Takalar, salah satu pabrik milik PTPN XIV yang

Apa betul tanah petani dirampas? Karena yang saya tahu dari koran dan televisi, tanah itu kan milik negara? Bukan petani …

Itu keliru! Petani mendiami tanah mereka sejak tahun 1960an. Sebelum ada jalanan dibuat oleh negara, warga telah mengolah lahan menjadi gantungan hidup sehari-hari dengan menanaminya palawija, jagung dan lain-lain. Berdasarkan UU Agraria tanah yang digarap oleh rakyat dalam rentang waktu 25 tahun berturut-turut sudah menjadi hak rakyat. Jika memang bukan tanah warga, mengapa ada proses pembebasan lahan? Lagi pula prosesnya penuh manipulasi dan intimidasi.

Saya tadi mendengar soal manipulasi dan intimidasi? Maksudnya gimana, coba jelaskan…

Bayangkan sosialisasi proyek ini dilakukan hanya di masjid, tahun 1980. Sosialisasinya hanya dihadiri oleh beberapa orang saja. Selanjutnya proses-proses pemaksaan juga terjadi. Banyak warga yang menolak proyek tersebut dipanggil paksa ke kantor tentara. Ada yang diikat lalu diseret. Ada yang dipukuli. Juga ada yang terbunuh, tewas tergantung. Kasus ini tidak pernah diusut hingga sekarang

Astaga!! Seperti itukah kejadiannya?

Ya. Tragis kan?

Berapa luas lahan warga yang dikuasai PTPN XIV?

Sekitar 6500 ha. Dulunya kebun dan sawah. Setiap petak ditandai parit, pohon, pagar dan tanda-tanda lain. Namun setelah diratakan oleh perusahaan, batas atau tanda-tanda tanah hilang.

Apakah ada bukti-bukti tertulis?

Sampai sekarang hampir seluruh warga masih menyimpan amplop berwarna coklat, bekas pembayaran ganti rugi pembebasan. Dalam dokumen tersebut dinyatakan tanah akan dikembalikan 25 tahun berikutnya (tahun 2005), setelah Hak Guna Usaha berakhir. Tapi setelah 25 tahun, HGU tak kunjung selesai. Tanah tak kunjung dikembalikan.

Mengapa tanah tidak dikembalikan setelah HGU selesai?

Itu dia masalahnya. Bupati Takalar langsung saja memperpanjang secara sepihak. SK tentang perpanjangan HGU ditandatangani tanpa meminta persetujuan dari pemilik lahan, para petani. Ini mengulang kejadian saat pertama kali proyek dimulai.

Pemerintah didorong ambisi untuk mendapatkan prestasi swasembada gula. Tetapi dengan cara mengorbankan petani-petani.

Mengapa kita mesti memberi dukungan? Aku tak merasa terkait dengan kejadian ini…

Coba bayangkan, kamu kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupmu, kamu menuntut dikembalikan. Tapi yang kamu dapat, kamu malah dipukuli, ditembaki, ditangkapi. Lalu semua orang berkata, “Aku merasa tak ada hubungannya dengan masalahmu!”.

Tapi, soal petani Takalar ini, kamu bisa saja bilang tidak ada hubungan secara langsung. Tapi tahukah kamu, jika setiap sendok gula dalam teh atau kopimu, atau kue, masakan, dan makanan lainnya yang kamu makan, terdapat keringat dan penderitaan para petani selama hampir 30 tahun?

Para petani melakukan hal yang semestinya dilakukan oleh setiap manusia, membela dan menuntut kehidupannya kembali. Kita, yang sekalipun merasa tidak terkait dengan hal ini, mesti melakukan sesuatu selayaknya sebagai sesama manusia. Bersolidaritas dan mendukung mereka yang menuntut haknya.

Oh.. gitu ya? Lalu sebaiknya seperti apa?

Mari berhenti berfikir bahwa apa yang orang lain alami terlepas dari kita. Apapun yang terjadi di muka bumi ini ada kaitannya dengan kita. “Kamu bisa lari tapi kamu tidak bisa sembunyi”. Setiap hal yang kita konsumsi ada penderitaan orang lain yang dipaksa bekerja untuk membuatnya. Begitulah sistem ekonomi dan sosial yang berlaku ini : kapitalisme!

Dukungan apa yang diharapkan dari kami?

Kami tidak memberikan “instruksi” apa yang kamu sebaiknya harus lakukan. Tapi paling tidak ada sedikit gambaran tentang apa yang harus kamu lakukan:

Mulailah berfikir dan memahami dunia sekelilingmu. Ambil peranmu, maksimalkan potensimu, dan jangan pernah mengatakan kamu tidak bisa apa-apa, atau seba-liknya, kamu telah melakukan sesuatu. Jangan pernah!

[Reportase Aksi] Menyumpahi Pemuda bersama “Gerbang Revolusi”


28 Oktober 2009, Tol Reformasi - Kantor Gubernur Sulsel

Aksi Gerbang Revolusi (Gerakan Rakyat Bersatu Anti Neo-Liberal dan Globalisasi untuk Revolusi) ini dalam rangka memperingati momen Sumpah Pemuda 28 Oktober. Sebagian besar masyarakat dan juga para aktivis memang masih menganggap bahwa momen tersebut memberi arti penting dalam perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme. Akan tetapi hal terpenting hari ini adalah kembali melakukan apa yang seringkali enggan ditempuh oleh para aktivis, meredefinisinya untuk mengkontekskan dengan hari ini.

Aksi ini memuat hal tersebut. Keengganan untuk meninjau kembali apa yang sebenarnya telah usang.

***

Jam sembilan telah lewat banyak. Matahari di perempatan tol mulai memanas. Satu-satunya kegunaan jalan layang -tempat yang dipilih menjadi titik kumpul, yang baru saja dibangun itu adalah menyediakan naungan dari panasnya deru kota dan terik mentari. Tidak lebih. Kecuali para seniman jalanan terpanggil menunaikan tugas suci dan mulianya (oh yeah) di tembok-tembok beton yang angkuh itu.

Tetapi barisan front aksi yang dilabeli "Gerbang Revolusi" ini belum lengkap. Formasinya masih bolong-bolong. Beberapa organ dan kelompok belum datang, Koordinator Aksi belum tiba di titik kumpul. Sementara itu, ada barisan aksi lain di seberang nampak lebih semarak, Aliansi Parlemen Jalanan. Luar biasa, sebelumnya mereka yang bergabung di aliansi tersebut

Seorang peserta aksi Gerbang Revolusi, entah berasal dari mana ia, nampak bingung. Ia kemudian menyarankan untuk penggabungan dua barisan aksi, agar terwujud "persatuan gerakan" di Makassar. Ck ck ck...

Kita bisa melihat, kebanyakan aktivis memang mengidap mental disorder. Merasa tidak percaya diri dengan jumlah minimal, merasa tidak kuat dengan apa yang dimilikinya. Merasa lebih puas dengan gerombolan massa yang tak sekalipun diperiksa, sejauh mana orang-orang itu mendukung aktif tujuan-tujuan aksi dan aktifitas yang dibangunnya.

Mitos-mitos persatuan selalu menjadi penghancur pandangan obyektif seseorang tentang bagaimana mesti bertindak dan bergerak. Akan sangat berbeda, dan pastinya sangat menarik, bila mereka memahami skema rizomatik untuk dipraktekkan di gerakan lokal.

Satu persatu kelompok dan organisasi hadir. Kebanyakan adalah pengurus eksekutif lembaga mahasiswa, yang memobilisasi mahasiswa-mahasiswa baru sebagai massa aksi mereka. Terlepas dari kesemrawutan pengorganisiran aksi di tiap-tiap kelompok, metode mobilisasi tersebut nampak tidak pernah berubah dalam beberapa tahun terakhir. Kamu bisa membayangkan, gerakan apa yang dibangun hari ini, saat para pejabat teras BEM memobilisasi massa mahasiswa baru dengan kayu di tangan di depan kelas?

* * *

Kawan-kawan dari Jaringan Libertarian juga telah berkumpul lengkap. Sesuai kesepakatan semalam, bendera hanya dibawa satu. Tidak lebih. Itupun sekedar menjadi tanda tempat dimana kami bisa berkumpul. Diikatlah bendera hitam berbintang merah-hitam itu pada sebatang kayu yang dipungut di lokasi.

Orasi pelengkap telah dikumandangkan, aba-aba bersiap telah meluncur. Seluruh peserta aksi telah bersiap dengan langkah kakinya.

Sebagaimana perkiraan sebelumnya, aksi ini hanya akan berputar-putar pada metode aksi yang tipikal. Rally, bernyanyi, orasi dengan awalan "hari ini,....bla bla", pembacaan tuntutan, serta "ancaman yang tidak mengancam" yang diawali dengan kata "kami akan kembali dengan jumlah lebih besar".

Sekitar setengah jam, barisan Gerbang Revolusi telah sampai di depan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan. Titik aksi yang telah disepakati. Dengan mengusung isu pendidikan di bawah rezim SBY-Boedione, para petugas aksi terus menerus menggelar orasi yang mengecam pemerintah dan kapitalisme.

Ritualnya seperti biasa, orasi bergiliran. Jaringan Libertarian pun kebagian jatah. Seorang dari kami pun maju untuk memberikan agitasi pada peserta. Tetapi, tidak sebagaimana mayoritas kelompok yang bergabung dalam front ini, kawan dari JL berorasi dengan tidak memberi tempat bagi sebuah pemerintahan dan negara sebagai pihak yang patut diberi harapan untuk membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Tidak ada perbaikan dalam sebuah kondisi terkontrol. Kapitalisme tidak mungkin direformasi!

* * *

Aksi telah mencapai klimaksnya. Pimpinan aksi memanggil masing-masing korlap untuk memutuskan langkah apa yang akan diambil sebelum mengakhiri 'acara' ini. Dan pertemuan di titik aksi tersebut memutuskan untuk membenturkan massa aksi dengan petugas/aparat, untuk menciptakan sebuah angle berita yang menarik -sebagaimana kesukaan para jurnalis industri media.

Kami tidak mengetahui, sejauh mana massa aksi mengetahui rencana tersebut. Bagaimana keputusan tersebut diambil dan dipertimbangkan. Meskipun hal tersebut adalah variasi yang jitu (dari beberapa aksi yang digelar hari itu, hanya aksi Gerbang Revolusi yang mendapatkan porsi pemberitaan yang lumayan di media massa), namun pada tingkatan peserta aksi ini tidak memberikan loncatan kemajuan.

Dan benar saja. Sesaat sebelum aksi cium-ciuman dengan aparat tersebut dimulai, masih banyak peserta aksi yang selonjoran di bawah papan iklan yang adem, di bawah pohon yang agak jauh dari pintu tempat berkumpul, serta di sekitar penjual es putar. Terlihat error yang menganga dalam aksi-aksi kecil macam ini.

Setelah merasa siap, benturan pun segera dimulai. Koordinator aksi menyerukan untuk maju, merapat ke arah pintu pagar kantor yang sedari tadi ditutup. Aparat terlihat sigap merespon. Beberapa dari mereka memukul-mukulkan pentungan ke perisainya, sebagai upaya menggertak peserta aksi. Tetapi sesuai dengan skenario awal, hal ini sekedar menciptakan sebuah tayangan, yang tidak akan pernah benar-benar untuk menjadi bentrokan.

Sejauh yang kami tahu, tidak ada orang saat itu yang benar-benar berhasrat akan momen-momen konfrontatif seperti itu. Terus terang, kami pun begitu. Untuk apa? Gagah-gagahan, kepentingan industri media, atau memang pilihan metodologis?

Meski beberapa dari kami memang sepakat dengan jalur-jalur konfrontatif, perusakan properti, dan apa yang seringkali dipelintir sebagai aksi kekerasan, tapi kali ini momen tersebut tak memberikan kami ketertarikan...

Akhirnya, massa yang sebelumnya cair berhasil disolidkan lagi.

Insting para wartawan yang sedaritadi menunggu momen tersebut memang tepat. Tanpa komando, mereka meringsek ke depan. Lebih depan dari polisi yang belum juga maju menghalau peserta aksi. Segala jenis kamera diklik berkali-kali, dan kamera video merekam tanpa henti. Barisan Gerbang Revolusi telah merapat ke pintu pagar. Petugas langsung maju, dan terjadilah keributan tersebut.

Tak ada yang luar biasa dalam momen tersebut kecuali peserta aksi yang terlihat canggung. Pertama, ada dua orang peserta aksi yang kemudian langsung berdiri menghadang laju massa aksi. Konyol. Siapa yang menyuruhnya berada di barisan aparat? Seorang kawan yang sangat semangat untuk menerobos, lantas menjadi sasaran birokrasi aksi itu. Ia kena marah dari seseorang yang entah dari mana dan atas dasar apa ia menghalangi peserta aksi.

Emosi seorang kawan tersebut lantas membuncah. Ia merebut megaphone dari seorang korlap di dekatnya. "Hey, kau! Tidak usah belagak pahlawan disitu! Pindah sana! Apa hakmu marah-marah, dan berdiri di barisan polisi!"

Perhatian sempat tersita ke sumber suara tersebut. Saya tidak berusaha menenangkan kawan saya tersebut. Saya hanya tertawa melihat aktivis yang diumpatinya tersebut, yang lantas menghentikan aksinya menghalau peserta aksi lain, dalam adegan tersebut. Kawan saya masih emosi. Saya menariknya ke belakang. Jengah rasanya, melihat masih ada juga aktivis bermental heroisme dangkal macam itu. Apa yang ada di pikirannya yang kemudian membuatnya tampil menghalangi massa mendekat ke arah pagar, menendang-nendang pintu dan berteriak memaki polisi?

Kekonyolan kedua, datang dari mayoritas peserta aksi yang kemudian serempak tunggang langgang melihat kejadian mengejutkan itu. Bisa dimaklumi, hampir seluruhnya adalah mereka para mahasiswa baru, yang dimobilisasi oleh pejabat BEM-nya masing-masing. Ini kemudian membuat kesimpulan datar, bahwa mayoritas peserta aksi tidak siap dengan kejadian tersebut, seandainya polisi benar-benar berniat untuk menangkapi para demonstran.

Beberapa orang dengan sigap memanggil kembali peserta aksi yang kocar-kacir, menahannya dan menenangkan untuk tidak perlu lari dan takut akan kejutan-kejutan tersebut. Bukan karena sok berani, tetapi dengan melihat tipologi aksi dan respon polisi, benturan tersebut tidak akan bertransformasi menjadi bentrokan luas, dimana polisi berniat untuk menangkap demosntran.

Karena merasa betul-betul jenuh dengan model tipikal tersebut, kami telah berada di lapisan terakhir. Menunggu barisan aksi berbalik dan membubarkan diri. Kawan-kawan hanya tersenyum melihat ending aksi ini. Seperti dugaan semalam.

* * *

Aksi ini mengangkat isu pendidikan, komersialisasi dan BHP. Nampaknya tidak ada upaya lebih serius untuk mempertimbangkan bagaimana aksi ini lebih bisa bertransformasi secara luas di tingkatan masyarakat. Perhatian mungkin lebih banyak pada bagaimana pada saat aksi. Bukannya mencakup bagaimana paska aksi, dampak yang ditimbulkannya, apabila aksi cium-ciuman dengan polisi hanyalah sekedar pemantik angle di pemberitaan media.

Misalnya selebaran/flyer dengan narasi kaku, datar dan desain yang tidak menarik, dengan jumlah yang minimal, tidak akan berhasil menjangkau masyarakat, apabila aksi ini menargetkan sebagai aksi kampanye belaka (dan memang).

Sementara itu, sebagaimana yang mengawal reportase ini, redefinisi tentang kolonialisme dan imperialisme (hal yang menstimulasi momen yang direspon ini, sumpah pemuda) bukan menjadi agenda yang penting bagi sebagian besar mereka yang bergabung dalam Gerbang Revolusi ini.

Imperialisme hari ini jelas berbeda dengan 50 atau 100 tahun lalu. Kita juga tidak sedang dijajah oleh bangsa asing saja sebagai entitas. Tetapi di berbagai level dan ranah, selalu ada rantai dan jejaring kapital yang menghisap, mengeksploitasi dan mengalienasi. Bukan sekedar ekonomi-politik saja.

* * *

Bagi kami, keterlibatan dalam front aksi ini adalah keinginan serius untuk menjalin sebuah komunikasi serius dan intens dengan kelompok-kelompok lain di gerakan lokal. Keinginan serius untuk mendiskusikan siapa musuh kita, bagaimana mereka beroperasi, bagaimana taktik dan strategi kita melawannya, dan langkah konkret apa yang mesti diambil.

Namun nampaknya, keinginan ini terhalangi dengan watak-watak para aktivis yang melulu menyandarkan metode pada demonstrasi (damai).Belum lagi dikotomi antara teori-praktek, diskusi-aksi yang masih bercokol di kepala para aktivis. Hingga watak otoritarian yang kental.

Bagi kami, momen revolusi (berhubung label front ini sarat dengan pakem-pakem revolusioner) adalah momen yang melibatkan masyarakat secara luas untuk berpartisipasi secara aktif dalam mengambil peran penghancuran tatanan ini. Bukan oleh segelintir elit gerakan yang memobilisir massa, bagai domba yang digembalakan.

Oleh karenanya, kawan-kawan di Jaringan Libertarian mesti membangun jaringan kerja yang melampaui semua itu. Itulah pilihan satu-satunya yang tersisa.